Jumat, 27 Januari 2012

Infus

Udah 4 kali tangan dia berlubang jadi ajang percobaan tusuk menusuk jarum oleh perawat ecek-ecek di sebuah rumah sakit swasta.  Serba salah, dia udah teriak berkali-kali, demikian juga yang jaga dia.  "mas..mbak..pelan-pelan dong....sakit tau...!!!", sahut dia.  "Lha, trus gimana?...obatnya harus dimasukkan nih...", jawab mbak perawat yang bermaskara, berjilbab dengan hiasan bungan disana sini, dan agak berkulit gelap itu, serta kurusan.  "mbak itu mikir dong..coba mbak ganti posisi aja..Mau gak?", kata si dia sewot.  "lha, kenapa harus saya jadi pasien?saya kan perawat. Sekarang, saya gak mau tahu. Yang jelas, obat harus saya masukan dan ini adalah order dari dokter..", agak meninggi sudah jawaban si perawat menyebalkan ini.

Yah, walaupun telah berbantah-bantah denga perawat aneh tersebut, akhirnya 2 injeksi yang katanya obat dari dokter harus dimasukkan ke tubuh melalui slang infus.. Sakit...pedih..dan buat eneg..Jadi setelah selesai, dia bilang mau muntah. 

Memang, gimana dan apapun itu bentuknya, pasien akan tetap dikalahkan oleh para pelaku medik di rumah sakit.  Apa yang menurut mereka baik, akan dilakukan terlepas dari itu menyakiti pasien.  Disini, pasien gak punya hak protes sama sekali (sepertinya seperti itu), apalagi menuntut.  Paling, kalo protes pasti ada aja jawaban yang didengar, "siapa suruh masuh ke rumah sakit ini?", begitu pernyataan yang kadang diterima para pasien, terutama pasien yang menengah ke bawah alias kelas 2 atau kelas 3.  Dan akan sangat berbeda jika pasien di kelas 1 atau VIP, mereka akan dapat perlakuan luar biasa berbeda. Bak raja, mereka selalu dinomorsatukan.  Di kelas 1 atau VIP inilah, bercokol para pejabat pemerintah, ataupun pengusaha-pengusaha 'tajir' yang gak jelas usahanya apakah merugikan orang lain ataukah merusak lingkungan.  Bagi petugas medis, yang penting duit mereka banyak.  Ada duit, ada pelayanan ekstra (ekstra plus opo yo?..hmmm).

Kondisi seperti ini telah menggejala di negara ini.  Gak harus tutup mata dan telinga, agaknya bisnis di kesehatan lebih memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan yang lain.  Menjual paket (paket pelayanan), agaknya tidak hanya dimiliki oleh bidang penjualan ataupun wisata.  Oleh karena itu, ada anjuran jangan sakit untuk manusia kere.  Walaupun telah banyak program dari pemerintah seperti Jamsostek, Askes, Pengobatan gratis dan lainnya.  Tetap aja, di lapangan (tempat pelaku kesahatan) akan sangat berbeda.  

Kalo kata 'bule' eropa, "di Indonesia aneh sekali rumah sakitnya.  Masa ada kelasnya.  Kalo di negara kami semuanya sama.  Jadi semuanya dapat perlakukan sama.  Di Indonesia, semakin banyak duit tentunya semakin mendapat pelayanan ok."...memang aneh..banyak manusia Indonesia mengecap kalo negara eropa atau negara barat lainnya orang nya individualis. Gak mementingkan orang lain. Tapi kenyataannya, justru negara yang terkenal dengan slogannya "tepa selira" ini lebih sadis!!!

Ah...mumet lah kalo mikir ini terus. Mendingan, berdoa agar si dia cepat sembuh dan bisa jalan-jalan lagi.  :-)

Kamis, 26 Januari 2012

JAMSOSTEK itu apa sih?

Hari gini gk tau Jamsostek?"hmmm...muke lu jauhhhhh...!!"..

Siapa yang tidak tau istilah ngetren dari jamsostek. Ya, pasti ramai orang akan mengatakan JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA..!!!pasti benar...Kalo menurut mr. google, dari website nya www.jamsostek.co.id di salah satu profilnya, dikatakan bahwa Jamsostek ini adalah lembaga jaminan sosial dan bla bla...bla.. (ulik-ulik di situsnya aja ya...hehehe)


Tapi, apakah memang seperti itu suatu jaminan yang katanya salah satunya mengcover kesehatan (JPK=Jaminan Pemeliharaan Kesehatan kali ?..) dan ok lagi bagi para pekerja atau buruh ketika telah berada di lapangan?

Hmmm..agaknya perlu dikaji ulang lagi tuh.  Hal ini telah ditemukan di lapangan baru-baru ini.  Dimulai dari perlakuan yang menomor sekiankan para anggota untuk konsultasi dengan dokter umum (belum dokter spesialis...) hingga perlakuan pada perawatan di Rumah Sakit atau unit kesehatan lainnya. "Bapak peserta jamsostek ya?kalo begitu, silahkan antri di ruangan itu Pak...", kata salah satu petugas medis yang berada di suatu unit kesehatan (padahal, di ruang non jamsostek kosong orang lo..). Yah, akhirnya Bapak itu antri di ruang yang dimaksud dan mendapatkan urutan di atas dua puluhan..(kasian bener lu pak...jauh-jauh mau berobat, eh, malah capek ngantri..gimana mau sembuh...).

"Ah...alat-alat yang tercover jamsostek murah dan berkualitas rendah pak. Liat nih, jarum infus aja udah habis 2 bengkok semua..", sahut salah satu "nurse" cowok (lah, paling mas aja yang blum ok pasang jarum infus, jadinya bengkok semua tuh..hhh, maunya enak aja lo sih).

Nah lo, emang begitu kah keadaannya?terus bagaimana cover-cover lain seperti JHT (Jaminan Hari Tua), JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja), JK (Jaminan Kematian), TK-LHK, dll?..hmmm...

FAM

Setelah sekian bulan, akhirnya operasi pengangkatan 'benjolan' yang diduga keras adalah segumpal tumor pun berlangsung dengan sukses.  Dia terbaring lunglai setelah harus berada di ruang pesakitan selama hampir 1 jam, dengan rincian sebagai berikut :
  • Pukul 09.00 wib, petugas ruang bedah mengantar dia menuju ruang operasi.  Setelah ditanya sana-sini ditambah ngalor-ngidul, diputuskan untuk menunggu sejenak.  Kenapa emang? karena dokter spesialisnya juga sedang lagi 'ngacak-ngacak' pasien lain.
  • Pukul 10.00 wib kok belum juga ada tanda-tanda dipanggil petugas.  Malah pasien yang pagi itu hendak dioperasi bertambah, dari masalah mata hingga masalah jeroan yang entah apa namanya.  Wah..alamat nambah lama.
  • Pukul 11.00 wib, ehhh..si dokter spesialisnya malah mendatangi dia, "sebentar ya, lagi disiapin ruangannya...", katanya menghibur dia.  Wah, senang-senang deg-degan nih. Dan tak lama dari itu, masuklah dia ke ruang operasi.
  • Pukul 11.35 wib, petugas kamar bedah memanggil.  "Pak...ini 'alien' yang ada di payudara pasien", katanya menerangkan.  wah...gede sekali.
Yah...selesai juga..

Peer selanjutnya adalah supaya dia cepat sembuh.  Kasihan, liat dia sampai nangis menahan sakit luar biasa. Aduh..kasihan sekali dikau wanitaku...hiks...cepat sembuh ya...

Masih penasaran nih..sebenarnya, makhluk apa yang mendiami mahkota wanitaku ini. hiks..Usut punya usut, menurut dokter spesialis yang menanganinya, benjolan yang ada di payudaranya dicurigai (hampir 99%) adalah FAM atau Fibro Adenoma Mammae.  Istilah ngetrennya adalah 'tumur jinak' (gak tau, mungkin jinak-jinak merpati kali ya...).

Sedangkan pendapat lain dikatakan :
Ukuran FAM berkisar 1-5 cm. Ada yang sampai 15 cm namanya Giant FAM. Seperti sama2 kita ketahui wanita dapat mendeteksi sendiri benjolan di payudaranya dengan tehnik pemeriksaan sendiri (SADARI). Jika menemukan benjolan, lakukan pemeriksaan. Bisa dengan USG biasa atau dengan mammogram. Selanjutnya dokter akan melakukan biopsi untuk memastikannya.

Mengingat FAM bersifat jinak, jika ukurannya kecil, tidak nyeri, ukuran tidak berubah dan hasil biopsi nggak masalah, maka tidak dibutuhkan tindakan operasi apapun, cukup di pantau dengan USG secara berkala. Tetapi jika besar (ukuran melebihi 3 cm), terasa nyeri dan bertambah besar serta hasil biopsi atipik (sel2nya sangat aktif) maka sebaiknya dilakukan pengangkatan FAM. Dianjurkan juga pengangkatan FAM apapun jenisnya pada wanita yang berusia lebih dari 40 tahun. 
(http://www.drdidispog.com/2008/09/fam-fibroadenoma-mammae.html)

Yah, kalo yang lainnya juga pendapatnya hampir sama aja. Jadi, gak usah dibahas lebih detail tentang fam ini. Yang jelas, kaum hawa (bagi saya) adalah makhluk terumit.. hiks...oleh karena itu, kasihilah dan sayangilah istri mu, jangan dicuekin atau dicerai jika istrimu terkena penyakit seperti ini.  WASPADALAH....!!!!

Selasa, 24 Januari 2012

rumah sakit

dan tak lama berselang, dia harus terbaring letih di suatu rumah sakit.  mungkin cuma rumah ini aja yang benar2 memiliki nama tetap, apapun keadaannya itu.  Rumah sakit...rumah bagi manusia-manusia yang sedang sakit jasmani (semoga aja tidak rohaninya..hehehehe)...
Secara harfiahnya (menurut bude wiki), rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya (kenapa dukun gk ada ya?hehehe...).  Kata mbak wongso :'' jadi yang namanya rumah sakit itu kudu profesional. Harus sanggup untuk bertindak dan berperilaku seperi layaknya manusia (kalo hewan namanya rumah sakit hewan :-)), karena yang diurus dan dirawat itu ya manusia." Hal itu juga diamini oleh mbak ronggo, " ya betul itu rekan wongso, namanya rumah sakit ya jangan menjadi rumah penyakit.  Jadi, mesti bisa merawat dirinya sendiri.  Masa, rumah penyakit jadi tempat tinggal orang sakit.  Bukannya manusia yang dirawat sembuh, malah bisa ko semua nanti (kalo cuma beberapa aja yang ko, sepertinya bisa dimaklumi..heheheh..:p)."

Yah, apapun demikian, ternyata rumah sakit yang berfungsi untuk merawat para manusia yang sakit jasmani masih kurang lo.  Jadinya, para manusia yg punya modal banyak pun berlomba-lumba untuk membangun rumah sakit.  Apalagi, hal tersebut didorong oleh para pembuat kebijakan tentang kesehatan semakin memberikan dukungan yang dilandasi peraturan yang kian longgar.  "yah, memang di Indonesia harus diperbanyak rumah sakitnya.  Coba bayangkan, lebih dari dari 250 juta manusia Indonesia dikelilingi oleh bahan dan faktor yang bisa sebabkan sakit.  Makanan, minuman, dan bahan pencemar berbahaya yang tiap hari bisa menggerogoti kesehatan manusia Indonesia," demikian celoteh salah satu pemikir bidang kesehatan Indonesia.  Hal ini pun ditimpali oleh mbak wongso, "lha gimana gak banyak bahan yang dapat membuat sakit, pemerintah yang berwenang mengaturnya mendiamkan saja. yang penting 'fulus' lancar masuk ke kantong dan bisa mencukupi kebutuhan hidup akan rumah mewah, mobil mewah ratusan juta, dan istri banyak (huehehhee...ada-ada aja..)." Dan mbak ronggo cs nya pun mengamininya. weleh..weleh...Trus, bude wiki pun berpendapat juga agak serius: "Perbandingan antara jumlah ranjang rumah sakit dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah. Untuk 10 ribu penduduk cuma tersedia 6 ranjang rumah sakit."

Beginilah keadaannya sekarang ini (keadaanya siapa to le...?). Semoga rumah sakit di Indonesia gak mikir yang aneh-aneh deh. Yang penting sanggup menjalankan fungsi hakikinya sebagai tempat singgah sementara (kadang-kadang sebagai tempat istirahat terakhir) untuk memulihkan kondisi jasmaninya lebih baik. Tapi perlu diingat nih, manusia-manusia yang membantu kinerja rumah sakit juga harus seia sekata dengan tugas dan fungsi nan mulia dari sebuah rumah sakit..amin.
sayup-sayup terdengar lagunya om iwan.."hai modar aku..hai modar aku..jerit si pasien merasa diremehkan...na na na..."