Udah 4 kali tangan dia berlubang jadi ajang percobaan tusuk menusuk jarum oleh perawat ecek-ecek di sebuah rumah sakit swasta. Serba salah, dia udah teriak berkali-kali, demikian juga yang jaga dia. "mas..mbak..pelan-pelan dong....sakit tau...!!!", sahut dia. "Lha, trus gimana?...obatnya harus dimasukkan nih...", jawab mbak perawat yang bermaskara, berjilbab dengan hiasan bungan disana sini, dan agak berkulit gelap itu, serta kurusan. "mbak itu mikir dong..coba mbak ganti posisi aja..Mau gak?", kata si dia sewot. "lha, kenapa harus saya jadi pasien?saya kan perawat. Sekarang, saya gak mau tahu. Yang jelas, obat harus saya masukan dan ini adalah order dari dokter..", agak meninggi sudah jawaban si perawat menyebalkan ini.
Yah, walaupun telah berbantah-bantah denga perawat aneh tersebut, akhirnya 2 injeksi yang katanya obat dari dokter harus dimasukkan ke tubuh melalui slang infus.. Sakit...pedih..dan buat eneg..Jadi setelah selesai, dia bilang mau muntah.
Memang, gimana dan apapun itu bentuknya, pasien akan tetap dikalahkan oleh para pelaku medik di rumah sakit. Apa yang menurut mereka baik, akan dilakukan terlepas dari itu menyakiti pasien. Disini, pasien gak punya hak protes sama sekali (sepertinya seperti itu), apalagi menuntut. Paling, kalo protes pasti ada aja jawaban yang didengar, "siapa suruh masuh ke rumah sakit ini?", begitu pernyataan yang kadang diterima para pasien, terutama pasien yang menengah ke bawah alias kelas 2 atau kelas 3. Dan akan sangat berbeda jika pasien di kelas 1 atau VIP, mereka akan dapat perlakuan luar biasa berbeda. Bak raja, mereka selalu dinomorsatukan. Di kelas 1 atau VIP inilah, bercokol para pejabat pemerintah, ataupun pengusaha-pengusaha 'tajir' yang gak jelas usahanya apakah merugikan orang lain ataukah merusak lingkungan. Bagi petugas medis, yang penting duit mereka banyak. Ada duit, ada pelayanan ekstra (ekstra plus opo yo?..hmmm).
Kondisi seperti ini telah menggejala di negara ini. Gak harus tutup mata dan telinga, agaknya bisnis di kesehatan lebih memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan yang lain. Menjual paket (paket pelayanan), agaknya tidak hanya dimiliki oleh bidang penjualan ataupun wisata. Oleh karena itu, ada anjuran jangan sakit untuk manusia kere. Walaupun telah banyak program dari pemerintah seperti Jamsostek, Askes, Pengobatan gratis dan lainnya. Tetap aja, di lapangan (tempat pelaku kesahatan) akan sangat berbeda.
Kalo kata 'bule' eropa, "di Indonesia aneh sekali rumah sakitnya. Masa ada kelasnya. Kalo di negara kami semuanya sama. Jadi semuanya dapat perlakukan sama. Di Indonesia, semakin banyak duit tentunya semakin mendapat pelayanan ok."...memang aneh..banyak manusia Indonesia mengecap kalo negara eropa atau negara barat lainnya orang nya individualis. Gak mementingkan orang lain. Tapi kenyataannya, justru negara yang terkenal dengan slogannya "tepa selira" ini lebih sadis!!!
Ah...mumet lah kalo mikir ini terus. Mendingan, berdoa agar si dia cepat sembuh dan bisa jalan-jalan lagi. :-)



