Mendengar berita memang kadang menyenangkan jika berita itu teruji (secara klinis bisa, secara ilmiah bisa, bahkan secara klenik juga bisa)...Apakah berita dari media TV ataupun surat kabar baik lokal ataupun interlokal (seperti telpon aja)... Di lihat dari mata dan didengar baik2 akan lebih menyenangkan...tetapi kalo berita itu diterjemahkan secara bebas oleh "mulut" agaknya perlu diwaspadai...Yah, jadinya berita dari mulut ke mulut atau "seko tutuk neng tutuk" (jawa)...
Seperti contoh...sebuah sms diterima dan isinya "masmu kecelakaan, tolong dikabari orang rumah" (demikian isi dari sms yang telah diterjemahkan secara detail dari bahasa Jawa)...Segera dikontaklah rumah (O'om), "gimana kabar mas, katanya kecelakaan?". Selang beberapa saat didapatkan jawaban, "iya, masmu kecelakaan,,,nabrak orang..."...Walah, kok jadi begini beritanya...Masih kurang percaya, karena ada embel2nya "katanya", langsung tanya deh ke orang bersangkutan..."mas, gimana keadaanya?katanya habis kecelakaan?parah tidak?terus dimana sekarang?"...dan tak lama berselang dibalas, "aku tidak apa2...sehat2 saja...siapa bilang kecelakaan?..saya cuma senggolan naik motor trus saya juga tidak jatuh dr motor...Tapi mbakmu nabrak sapi..."...nah lo...yang bener gimana....
Hingga sekarang, masih dalam tanda tanya...semoga dapat solusinya....
Begitulah..berita dari mulu ke mulut...jadinya nambah asin, pahit, manis, atau asam hanya tergantung kemasan dan isi dari berita tersebut....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar